Rabu, 22 Desember 2010

sabu-sabu

Memahami Sabu-sabu
Oleh David and Joyce Gordon

Amfetamin ditemukan pada akhir 1800-an, namun baru dipasarkan pada
1930-an, waktu Benzedrin dikenalkan oleh industri farmasi untuk
mengobati darah rendah. Deksedrin dikenalkan pada 1950-an untuk menekan
kelaparan dan meningkatkan suasana hati. Merek amfetamin lain, seperti
Metedrin, Deksamil dan Benzedrin, kemudian membanjiri pasaran.

Pada 1960-an, tampaknya semuanya 'memakan sang putih/bennies dan doing
speed' (semuanya istilah slang untuk memakai perangsang jenis
amfetamin). Biasanya orang tersebut termasuk dua kategori: mereka
senang upper (perangsang) atau downer (depresan, seperti heroin).

Metamfetamin (meth) dan kokain lagi in dari akhir 1960-an hingga akhir
1980-an. Dan ada beberapa bentuk meth dan kokain yang dikenal,
misalnya, sebagai Crank, Speed, Bennies, Rock, Kristal, dan Crack.

Pada awal 1990-an, satu bentuk metamfetamin lagi, dikenal sebagai
Kristal Meth atau Ice, dan di Indonesia sebagai sabu-sabu, sampai ke
jalanan di seluruh dunia. Sabu-sabu dua sampai tiga kali lebih manjur
daripada sebagian besar amfetamin lain. Sabu-sabu membangkitkan secara
dramatis 'pasaran speed'. Sabu-sabu tahan lebih lama dan menimbulkan
giting jauh lebih baik dibanding sebagian besar bentuk speed lain.
Sabu-sabu mengambil alih sebagai narkoba pilihan untuk mereka yang
senang suasana speed. Penggunaan, dan penyalahgunaan, sabu-sabu makin
meningkat selama satu dasawarsa penuh. Sabu-sabu selalu dianggap
narkoba ilegal yang sangat berbahaya dan merusak.

Sabu-sabu populer karena banyak alasan. Para pengguna menegaskan
sabu-sabu memberikan mereka lebih banyak tenaga dan kekuatan, membuat
mereka tahan tidak tidur selama 24 hingga 48, bahkan 72 jam. Mereka
menyatakan sabu-sabu memberikan pengalaman seks lebih lama dan lebih
baik, dan narkoba ini sangat populer di antara orang gay di AS.
Dikatakan sabu-sabu membantu mereka berpikir lebih jelas, dan menjadi
lebih lihai. Amfetamin dan metamfetamin sering dipakai di 'lingkungan
medis' untuk membantu para perempuan menghilangkan berat badan. Dan ada
mitos umum di Indonesia bahwa memakai sabu-sabu adalah cara terbaik
mengatasi kecanduan heroin. Kerap kali ini adalah beberapa dari banyak
alasan penggunaan dan penyalahgunaan sabu-sabu. Masalahnya, hanya
sedikit orang benar-benar memahami kerugian dari sabu-sabu.

Umumnya orang-orang yang memakai kombinasi upper dan downer, yakni,
speedballing (pemakaian kombinasi metamfetamin dan heroin) setahu kami,
belum menjadi kegemaran di Indonesia.

Metamfetamin sampai ke jalanan Indonesia pada 1996, dan sejak itu
menjadi semakin populer dengan 'kebudayaan narkoba'. Umumnya sabu-sabu
dihisap. Tetapi makin banyak orang cenderung shoot (menyuntik)
sabu-sabu saat ini.

Sabu-sabu, seperti heroin, dapat dihisap, diendus atau disuntikkan.
Sabu-sabu bentuk cairan yang dapat disuntikkan jarang tersedia di
Indonesia, walaupun amfetamin cair mudah diperoleh. Namun hampir pasti
sabu-sabu bentuk cairan yang dapat disuntik akan segera
berlimpah-limpah. Peningkatan dalam penyuntikan yang diakibatkannya
akan meningkatkan risiko dan penyebaran HIV dan virus hepatitis C (HCV)
besar-besaran di seluruh negara.

Kita harus sadar bahwa dunia saat ini juga berada dalam 'Kebudayaan
Narkoba'. Banyak orang, dengan kelompok usia dari yang muda hingga
orang dewasa dan bahkan lanjut usia, memakai narkoba, menyalahgunakan
narkoba dan ketergantungan pada narkoba. Dan ada hanya sedikit
perbedaan jender dalam dunia narkoba sekarang--perempuan sama terpukul
seperti lelaki.

Sabu-sabu jauh lebih berbahaya dalam beberapa cara daripada heroin
(putaw). Penggunaan dan penyalahgunaan sabu-sabu jangka panjang
menimbulkan kerusakan pada susunan saraf pusat, mengakibatkan depresi
dan kelemahan, keracunan pada jantung dan pembuluh darah, dan sangat
sering mengakibatkan paranoia tinggi dan parah. Kecenderungan depresi
sifat bunuh diri sangat umum pada orang yang memakai sabu-sabu.
Overdosis memang terjadi, dan orang memang bisa meninggal dunia karena
sabu-sabu, walaupun putaw masih penyebab utama overdosis narkoba.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar